Senin, 14 Mei 2012

Kisah Cinta: Perempuan Hujan

Di sela-sela ngerjain tugas buat dikumpulin hari rabu, gue sempet-sempetnya menjamah nih blog. Karna akhir-akhir ini hujan selalu turun akhirnya gue punya ide untuk buat cerpen yang temanya ga jauh-jauh sama namanya hujan.

Kisah Cinta: Perempuan Hujan ini adalah cerpen kedua gue setelah Misteri Perjalanan Hidup: Cinta Sepasang Remaja  yang gue nganggap alurnya masih lari-lari ga bisa ngebawa pembaca berasa ada dicerita. FYI, cerpen ini juga diposting di http://www.ilmuini.com/
Tanpa berlama-lama lagi, nih baca !!

“Jujur, terbuka dan jangan takut ceritakanlah semuanya agar tumbuh benih perhatian diperjalanan hidup hingga menjadi ujung yang bahagia” Bayu Putra Abuna

Apakah yang sering kalian lakukan saat hujan turun, kali ini aku akan berbagi sebuah cerita tentang yang dilakukan perempuan dikala hujan turun.

Dulu lagi marak-maraknya semua temanku memiliki facebook, salah satu social media untuk mempererat silaturahmi. Saat itu aku pun tak mau ketinggalan takut dibilang tak mengikuti perkembangan zaman, alhasil aku juga membuat facebook sama seperti teman-temanku.

Setelah aku mengenal facebook hari-hariku hanya sibuk dengan status-status berharap semua orang tahu apa yang saat ini sedang aku kerjakan. Sampai pada suatu hari aku membuka facebook ada pemberitahuan permintaan pertemanan seorang perempuan yang tak kukenal namun foto profil di akun facebook-nya itu seorang perempuan berkulit putih dan cantik, tanpa pikir panjang aku menerima permintaan pertemanannya.

Keesokan harinya saat aku buka facebook lagi, ada tulisan di berandaku,
“thanks ya udah konfirmasi, salam kenal” ujar Yuna nama facebooknya.
Akupun mengomentari tulisan itu,
“welcome..” tulisku singkat.
Entah berapa lama, facebook ku berbunyi yang menandakan ada orang yang mengirimkan pesan lewat obrolan. Ternyata itu Yuna.
“thanks ya udah konfirmasi”
langsungku jawab “iya sama-sama”
lama ia tak membalas chat-ku,
“kalau boleh tahu, nama kamu siapa?” Tanyaku memberanikan diri.
“ya sama seperti di FB-ku lah”
“Ooo gitu, kalau aku Putra salam kenal ya”

Lama kami ngobrol cerita tentang kesibukan, hobi, tempat tinggal sampai pacar. Tapi saat aku bertanya tentang pacar dia selalu mengalihkan pembicaran kami dan obrolan kami ditutup dengan pertukaran nomor Hp.

Setelah pertukaran nomor hp itu kami selalu telepon-teleponan, sampai akhirnya aku mengajak dia ketemuan di kafe yang dekat dengan rumah dia nanti sore pukul 5. Awalnya dia tak mau diajak ketemuan, tapi aku selalu memohon-mohon dan akhirnya aku bisa membuat hatinya luluh dan dia pun mengiakan pertemuan itu.

Baru pukul 4 sore aku sudah berangkat dari rumah menuju kafe tempat kami janjian untuk ketemuan, aku takut dia yang lebih dulu datang soalnya rumah dia dekat dengan kafe itu, selain itu langit sore lagi mendung takut hujan turun. Setelah beberapa saat aku telah sampai di tempat tujuan dan jam masih menunjukan pukul 4.30. Artinya masih 30 menit lagi aku menunggu Yuna dan segera menuju tempat yang masih kosong.

Tak lama aku duduk muncul seorang perempuan berbaju hijau di depan kafe,
“itu pasti Yuna” gumamku dalam hati seperti katanya waktu ditelepon dia akan memakai baju warna hijau. Aku berdiri dari tempat dudukku.
“Yuna ya” tanyaku sambil menyodorkan tangan.
“iya, kamu Putra kan?” sambil menyambut sodoran tanganku.

Ternyata Yuna itu orangnya sangat cantik melebihi foto profil di FB-nya. Sesekali aku menatap wajahnya dan dibalasnya dengan senyum. Bahagia sekali rasanya aku bisa kenal dengan Yuna.

Setelah kami bicara sana-sini, terdengar suara petir dari langit dengan kilatannya yang membuat Yuna keget dan terdiam sampai pucat wajahnya. Aku pikir itu biasa kalau perempuan dengar petir kaget dan terdiam seperti Yuna saat itu. Tapi setelah hujan turun, Yuna begitu histeris dengan air mata yang mengalir dari matanya membasahi pipinya dan diiringi dengan teriakan-teriakan “tolong…tolong” yang keluar dari mulutnya. Aku dan pengunjung kafe sontak kaget melihat sosok Yuna yang tiba-tiba histeris, aku coba mendekatinya untuk menenangkannya, tapi aku tak berhasil dia malah tambah histeris dan menuju ke jalan raya sambil berteriak “tolong…tolong” dengan tangannya mengepal bajunya. Aku kebingungan apa yang harus aku lakukan, namun setelah itu hujan berlahan berhenti dan secara ajaibnya Yuna yang sangat histeris tadi juga perlahan berhenti beriringan dengan berhentinya hujan.

Aku ajak Yuna yang mulai tenang masuk ke kafe. Aku berikan dia teh hangat untuk menghangatkan kondisinya.
“maaf ya put” katanya sambil menyeduh teh hangat.
“iya, ga papa. Memangnya kamu kenapa yun?” tanyaku perihal kejadian itu.
“nanti kamu juga tahu” jawabnya minta ditebak.
Aku melihat badan Yuna gemeteran, segera aku lepas jaket yang aku kenakan dan ku letakkan di tubuh Yuna.

Saat pulang aku berpikir kenapa Yuna sampai histeris seperti itu. Ah masa bodoh yang jelas aku bahagia bisa mengenal Yuna sosok perempuan yang aku idam-idamkan. Setelah pertemuan itu kami selalu jalan berdua, hingga aku pun memutuskan untuk melangkah kejenjang yang lebih tinggi dari pertemanan yaitu, pacaran.

Ternyata Yuna orangnya ramah, penyanyang, perindu dan yang paling penting dia orangnya sangat perhatian. Apalagi saat aku meninggalkannya dalam beberapa hari keluar kota untuk bekerja, dia selalu bilang,
“jangan lupa makan, istirahat agar tidak sakit dan kita bisa ketemu deh” perintah Yuna sambil tertawa. Aku yang mendengar perkataan Yuna merasa kalau aku begitu berharga buat dia.
“iya sayang…tenang aja ko”

Sampai suatu malam aku dan keluargaku mengundang keluarga Yuna untuk makan malam bersama di rumahku. Saat itu aku dan keluargaku sudah mempersiapkan kejutan untuk Yuna dan keluarganya.
“tok..tok..” suara pintu diketuk. Aku yang sudah rapi menuju kearah pintu untuk membukanya.
“selamat malam” sapaku kepada Yuna dan keluarganya. Hanya dibalas dengan senyuman yang serempak dari Yuna dan keluarganya.
“silakan masuk” ajakku.
 Kami langsung menuju tempat ruang makan yang d isana sudah ada keluargaku.

Sebelum makam, aku berdiri dari tempat dudukku dan mendekat ke arah Yuna.
“aku merasa kamulah yang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pasangan hidupku, aku merasa tenang saat ada didekatmu….”
Yuna yang mendengarkan aku bicara hanya senyam-senyum saja, mungkin dia malu dilihat keluargaku dan keluarganya.
Tanganku mengambil sebuah cincin yang sudah aku persiapakan di saku celanaku.
“will you marry me?” tanyaku sambil menatap mata Yuna dan memegang cincin di tangan kananku.
Lama Yuna tak menjawab ajakanku hingga membuat keluargaku cemas, takut kalau Yuna tak mau.
“i will….” Jawab Yuna sambil tersenyum dan memandang orang tuanya.
Aku pun segera memasukkan cincin ke jari manisnya dan memeluk Yuna.
Dalam pelukku Yuna bertanya “kamu selalu ada untukku setiap waktukan?”
“iya dong, aku janji akan selalu ada waktu untukmu sayang…” jawabku sambil mencium keningnya.

Keluarga kami pun yang melihat aku melamar Yuna juga ikut senang melihat kami saling berpelukan.

Setelah itu kami hidup berdua di rumah yang telah aku persiapkan untuk pernikahan kami. Setiap hari Yuna selalu menyiapkan makanan untuk aku sebelum berangkat ataupun setelah pulang bekerja. Aku merasa pilihanku tepat untuk menjadikan Yuna sebagai pendamping hidupku.

Akhirnya setelah setahun dari pernikahan kami, Yuna dikabarkan telah hamil 2 bulan. Aku merasa tak lama lagi aku akan mempunyai anak dan menjadi seorang ayah. Sampai umur kehamilan Yuna 8 bulan, aku merasa uang tabunganku tidak cukup untuk biaya kelahiran anak pertama kami, akhirnya aku meminta kepada atasanku untuk penambah waktu kerjaku agar aku bisa membayar biaya persalinan Yuna. Atasanku mengizinkan aku untuk menambah waktu kerja, tapi dia menugaskanku bekerja di luar kota. Aku pun mengiayakannya.

Aku cerita kepada Yuna, kalau aku minta penambahan waktu kerja untuk membayar biaya persalinannya nanti, aku takut tabunganku masih kurang tapi Yuna malah menjawab.
“ga usah deh, kalau kurang nanti aku minta sama orang tuaku” jawab Yuna.
“aku tak mau menyusahkan orang tua dalam keluarga kita, aku harus bertanggung jawab sebagai suami aku harus memberikan kebahagian kepadamu dan anak kita kelak. Aku yakin kalau aku bisa membayar biaya persalinan kamu meskipun aku harus kerja mati-matian”
“makasih sayang…” lirih Yuna sambil menciumku dengan senyum.

Aku langsung memberi tahu kepada atasanku bahwa aku bersedia dikerjakan di luar kota dalam beberapa hari. Atasanku langsung memerintahkanku untuk besok pergi keluar kota, yaitu Banjarmasin.

Aku pun pamitan kepada Yuna, meskipun dia memperbolehkan aku bekerja di luar kota tapi aku tahu sebernarnya dia sangat berat dengan keputusanku.
“secepatnya aku akan kembali dan kita akan melihat anak pertama kita” kataku berat sambil tersenyum.
Yuna hanya tersenyum dengan air mata yang menghiasi wajahnya.
“telepon aku ya sayang bila kamu ada apa-apa?”
Lagi-lagi Yuna hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum.

Setelah sampai di Banjarmasin aku telepon Yuna, ternyata dia lagi rebahan sambil mengusap-ngusap perutnya. Aku iri kerena saat ini aku tak bisa melakukan seperti yang dilakukan Yuna.
“jangan lupa makan dan istirahat” lagi-lagi Yuna mengingatkanku.
“iya sayang tenang aja”
“ya udah aku mau istirahat dulu ya…”
“iya, kabarin kalau ada apa-apa?” sahutku sambil menutup telepon.

Aku bekerja di Banjarmasin kira-kira seminggu sebelum kelahiran anak pertamaku. Aku bekerja dari pagi hingga malam, kadang-kadang sampai pagi lagi. Meskipun lelah aku bekerja tapi semua pekerjaanku terasa ringan ku lewati sebabku bekerja bukan hanya untuk diriku sendiri melainkan untuk istri dan anakku.

Di sore hari di tengah-tengah banyaknya tugas kerjaanku, hujan turun sangat lebat sekali hingga ku teringat pertama kali aku dan Yuna ketemuan di kefe dekat rumahnya yang membuat aku bernoslagia penuh dengan senyuman. Namun aku terkejut saat itu Yuna sangat histeris saat hujan turun. Aku pun langsung menelpon Yuna. Dan ternyata tidak ada jawaban dari Yuna, aku telepon beberapa kali hingga terdengar suara orang meminta tolong dari ujung telepom, dan aku kenal suara itu, itu adalah suara Yuna yang sama persis saat kejadian pertama aku bertemu dengan Yuna. Aku yang mendengar Yuna minta tolong histeris, aku pun meminta izin kepada atasanku untuk pulang dengan alasan istriku sedang sakit. Atasanku mengizinkan permintaanku aku pun segera pulang dengan keadaan cemas.

Setelah sampai di rumah ternyata barang-barang sudah berserakan, aku teriak-teriak memanggil Yuna namun tak ada jawaban, aku cek di kamarnya, kamar mandi hasilnya tak ada tanda-tanda Yuna. Aku pun ingat saat pertama ketemuan dengan Yuna , Yuna juga seperti ini, dia juga histeris dan dia lari ke jalan raya untuk meninta tolong. Aku pun dalam hati berkata Yuna di jalan raya. Aku lari sekuat tenaga menembus hujan yang lebat, tapi aku masih tak menemui keberadaan Yuna. Hingga aku melihat di kejauhan orang bergerombol di tepi jalan. Aku memutuskan mendekati gerombolan orang itu berharap Yuna ada disitu. Dan aku bertanya kepada salah satu orang yang ada disitu.
“ada apa itu pak?”
“katanya ada perempuan hamil yang ketabrak mobil”

Aku langsung menuju kesana dan berharap itu bukanlah Yuna, dan betapa terkejutnya aku saat aku melihat perempuan yang tak asing bagiku tergeletak di pinggir jalan dengan darah yang mengucur di selangkangannya.

“Yunaa…”teriakku sambil menggendongnya berlari ke rumah sakit terdekat.

Setelah sampai di rumah sakit, suster yang menanganinya aku pinta untuk semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa istri dan anakku. Suster itu hanya mengangguk sambil membawa Yuna ke Unit Gawat Darurat (UGD). Aku hanya bisa berdoa semoga istri dan anakku bisa selamat. Dan aku segera memberi tahu keluargaku dan keluarga istriku tentang keadaan istriku saat ini.

Setelah sejam kemudian, Suster itu keluar dengan wajah yang tertunduk lesu mendekatiku.
“maaf pak, kami sudah menangani istri bapak semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain”
“Maksudnya” jawabku minta dijelaskan lagi dengan rasa penasaran.
“istri dan janin yang ada diperut istri bapak tak bisa kami selamatkan”

Setelah mendengar itu aku pun hanya menangis dan menangis, rasanya dunia ini tak berputar lagi, aku kehilangan perempuan yang sangat aku cintai serta kehilangan anak pertamaku. Orang tuaku hanya bisa menenangkanku setelah mendengar pernyataan Suster. Orang tua Yuna juga ikut sedih mendengar anak sulungnya telah meninggal bersama cucunya.

Saat aku masuk keruangan UGD, aku langsung memeluk istriku dan mengusap anakku yang ada di dalam perut istriku. Lalu tanpa kusadari ibu Yuna ada disampingku dan bercerita kepadaku.

"Dulu Yuna itu mempunyai pacar namanya Buna dan mereka akan menikah, tapi sehari sebelum pernikahan mereka mengalami kecelakaan saat hujan deras hingga mengakibatkan calon suaminya meninggal akibat tak ada orang yang menolong Buna dan setelah kejadian itu Yuna selalu histeris dan pergi ke jalan raya meminta pertolongan ketika hujan."

Aku selalu bertanya kepada diriku sendiri, kenapa Yuna tak menceritakan yang diceritakan ibunya kepadaku. Kalau aku tahu Yuna begitu pasti aku takkan meninggalkannya. Sedetik pun.

Maafkan aku Yuna yang tak bisa menepati janjiku untuk selalu ada setiap waktu untukmu, andaikan Tuhan memberiku kehidupan kedua pasti akan kutepati janjiku untuk selalu ada disampingmu dan kini aku tahu arti anggukan dan senyummu sebelum kepergianku.

TAMAT

Gimana ceritanya? Kalau ada pengalaman kalian tentang hujan komen aja di bawah biar akrab #CIE

Ya udah gue mau nyambung ngerjain tugas Kajian Prosa Fiksi dulu, soalnya tinggal 1 hari lagi tuh tugas udah diserahin buat nilai UTS. Mohon doanya...

29 komentar:

  1. keren bang critanya ^^

    tapi mau koreksi dikit , kalo mau ngelamar bukannya "will you marry me ?" gt ya bang hehe , cuma gt aja.. *tetep ngasih jempol*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih bang.
      Astaga, ketinggalan bang you-nya. Sengaja gue bang biar ada yang ngomen #Ngeles

      Hapus
    2. haha ilmu ngeles kreatif yg setingkat sama supir bajaj senior lulusan S1 di fakultas pengelesan bang .. =D

      Hapus
    3. iya, :)
      kan lo dosennya bang #Jlep

      Hapus
  2. aku punya kisah hujan, tapi udah dbukukan. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah ... keren tuh bang :)
      Pantesan tulisannya keren-keren #TepukKaki

      Hapus
  3. cinta yang berawal dari senyum kebahagiaan Namun berakhir dengan senyum kesedihan. menyentuh banget kisahnya bang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. "pecundang akan menjadi pemenang ketika ia berani mempertontonkan keabsurdannya kepada semua orang"

      Keren Bng fahamnya :D

      Hapus
  4. waahh lumayan nih buat ngabuburit baca nih cerepen dulu ahh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. silakan, tapi masih absurd ceritanya :)

      Hapus
  5. pinter juga lo buat cerpen bay ...
    sedikit kritikan dari gue, endingnya terlalu umum ..
    ada orang bergerombol, dideketin ternyata orang yg kita kenal..
    dia udah tewas ..

    tapi terus terang, elu sukses ngebuat gue masuk ke dalam cerita elu bay ...

    hanya saja pertanyaan gue, selama delapan bulan itu gak pernah ada ujan ya bay ? hehehe

    gue tunggu cerpen elu selanjutnya ..

    disiplin menulis pokoknya deeh ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. lagi belajar bang..
      oh iya dotz makasih, itu sangat berharga banget sama kayak upil lo. aruskan endingnya ceweknya mati karena nelan upil sendiri :D

      bener juga ya, emang kritis lo, itu di skip biar ga kepanjangan, kalau ga di skip namanya bukan cerpen lagi tapi cerjan (cerita ujian) *ngeles

      thanks bang energinya

      Hapus
    2. naaah kalo itu bakalan spektakuler bay ..
      gak kan ada yang nyangka endingnya sedramatis itu hahaha

      halaah maksa banget ..
      kira2 perjalanan dari kota tempat kerja sampe rumah yuna berapa jam yaah ??

      Hapus
    3. bener tuh :)

      paling cuma sejam dua jam bang, kenapa mau bayarin ongkosnya dotz?

      Hapus
  6. ajib kak keren banget ceritanya :D
    alur ceritanya gabisa ditebak wkwkwk :D
    tp masih ada tanda baca yg kurang tuh hehe
    tp over all udah keren kok :D bagus :)

    BalasHapus
  7. keren bang cerpennya , kirain gue mau bahas perempuan hujan n kolornya *bercanda :)
    cuma ada kejadian2 yg rada absurd tuh ..

    BalasHapus
  8. keren kakak cerpennya, semangat buat terus nulis!

    BalasHapus
  9. bang, sedia tissue gak? ...
    ceritanya subhanallah banget :)

    BalasHapus
  10. keren bay cerpen lo, gue sampe terbawa sampai kasian ngeliat lo ditokoh itu :(

    BalasHapus
  11. keren bay ,co cWeEetT n mNyentUhh bbEEuuUdh *4L4y mode ON
    bisa terbawa aku keceritanya...gimana cara buat cerpen bay? pengen juga nih sekali2 bikin...:D

    BalasHapus
  12. jhiahh,,,sedih bang...kenapa harus berkahir tragis sih,,hummh,happy endng ajah,,si yuna nya mati suri,,,heheheh...:)

    BalasHapus
  13. Gue juga punya cerita tentang hujan. Itu dramatis bgt. Ya fiksi. Kapan2 gue jadiin postingan deh bang. Good luck buat cerpen2 berikutnya ya bang.

    BalasHapus
  14. menyentuh bang ceritanya.. :")

    ajarin bikin cerpen dong...

    BalasHapus
  15. Alurnya keren kak :D menyentuh. Gue gak bisa bayangin tuh perasaan Putra. Jadi kebawa cerita. Haru bang T.T

    BalasHapus

Jadilah pembaca yang bersahaja dengan cara menyumbangkan deretan alfabet berupa komentar setelah membaca tulisan ini. Insyaallah yang komen bakalan saya dikomenin balik. So, jangan ragu kalo mau kasih komentar! Happy blogging :)